Tajuk

Sekolah dan Revolusi Mental
Friday, July 4th, 2014
Sejak reformasi bergulir di negeri ini tahun 1998 sampai sekarang, ratusan anak dan remaja meregang nyawa sia-sia. Anak-anak yang masih duduk di Sekolah Dasar, SMP, SMA dan SMK mati sia-sia di tangan para predator baik predator dalam bentuk produk beracun yang membunuh maupun predator manusia itu sendiri.

Percaya atau tidak, ratusan anak sekolah dasar sampai SMA meninggal dunia akibat penyalahgunaan narkotika dan obat-obat terlarang, karena rokok, karena menenggak minuman keras arak oplosan, narkoba, dan minuman beralkohol kini telah menjadi predator yang tidak banyak bicara tetapi memiliki daya bunuh yang sangat tinggi. Sementara para pembuat regulasi secara terang-terangan mengijinkan perdagangan racun yang mematikan itu. Lihat saja iklan rokok yang dipampang pada baliho, ada tulisan “merokok membunuhmu”, tetapi dijinkan juga untuk dipertontonkan kepada publik. Ngeri rasanya, sudah tahu membunuh tetapi diijinkan diiklankan di ruang publik.

Predator yang sangat membahayakan anak adalah manusia, bukan hanya manusia dewasa tetapi juga sesama anak-anak. Media cetak dan elektronik beberapa waktu lalu diramaikan dengan berita seorang anak Sekolah Dasar di Jakarta memukul temannya dan mengakibatkan temannya itu meninggal. Puluhan siswa meninggal dibantai oleh sesama siswa dalam aksi tawuran antar sekolah. Dan baru-baru ini seorang siswa SMAN 3 Jakarta meninggal dunia karena dianiaya oleh sesama teman pencinta alam.

Apa yang dikemukakan ini hanya mau mengatakan bahwa sekolah kini bukan tempat yang aman bagi nyawa anak, nyawa manusia.Karena itu sistem pendidikan di sekolah yang lebih menonjolkan aspek akademik dan mengabaikan pendidikan karakter adalah sebuah kesalahan besar. Lemahnya pendidikan karakter siswa telah mengakibatkan siswa bisa membunuh gurunya, membunuh orangtuanya, membunuh orang lain dan membunuh temannya sendiri.

Kita semua yakin bahwa kejahatan lahir karena karakter atau mental yang tak diasah untuk terbiasa mencintai kehidupan, Pro Life. Karena itu sangat tepat jika gaung “revolusi mental” yang digemakan akhir-akhir ini perlu disambut positif. Bangsa kita dan dunia pendidikan kita memang perlu revolusi mental sehingga proses pendidikan bisa menghasilkan manusia yang berkarakter dan berkualitas.