Oktober, Bulan Penuh Makna Bagi Orang Muda

Tuesday, October 2nd, 2012

 

tentara
Hai teman-teman, jumpa lagi di edisi Oktober 2012 ini. Bulan Oktober ini boleh dikatakan sebagai bulan penuh makna. Pasalnya, ada sejumlah hari bersejarah yang memberikan kita kesempatan untuk melakukan refleksi tentang nasionalisme dan jiwa juang kita sebagai generasi muda bangsa tercinta ini.

 

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Kita diajak untuk merenungkan betapa pancasila itu sakti dan mampu mempersatukan Indonesia yang berbeda suku, agama, ras dan golongan. Tanggal 5 Oktober diperingati sebagai Hari Ulang Tahun TNI dan kita diajak untuk bersama-sama dengan TNI menjaga kedaulatan negara Indonesia yang kita cintai ini.

Tanggal 15 Oktober adalah hari hak azasi binatang dan kita diajak untuk membela hak hidup binatang dengan menjaganya dari ancaman kepunahan. Untuk kita di Bali, ancaman paling serius adalah semakin menyusutnya populasi Jalak Bali di Taman Nasional Bali Barat, padahal jenis burung ini tak ada di dunia lain kecuali di Bali. Ancaman lainnya adalah semakin langkanya hewan laut penyu hijau di sejumlah pesisir pantai Bali. Kita dipanggil untuk menjadi penerus generasi yang mampu mewariskan Jalak Bali dan penyu hijau kepada anak cucu masa depan Bali.

Selanjutnya tanggal 24 Oktober kita memperingati hari dokter Indonesia. Kita berdoa agar para dokter dapat mengabdikan diri bagi pelayanan kepada masyarakat termasuk di daerah terpencil. Selain itu kita berdoa bagi mereka agar jangan tergoda oleh tawaran yang menjerumuskan mereka pada tindakan yang merendahkan harkat dan martabat manusia seperti menolong melakukan oborsi, eutnasia dan tindakan lainnya yang merugikan pasien.

Tanggal 28 Oktober adalah hari bersejarah yang berkaitan erat dengan keberadaan kita sebagai orang muda Indonesia karena 84 tahun silam, tepatnya 28 Oktober 1928 kaum muda menyatakan komitmennya sebagai ‘umat manusia’ yang memiliki Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa, Indonesia. Komitmen itu kini kita kenal dengan istilah ‘Sumpah Pemuda’. Kita adalah pewaris Sumpah Pemuda dan kita pun saat ini harus bersumpah untuk tetap menjadi pemuda Indonesia yang Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa.

Salah satu komitmen yang dikobarkan oleh para pemuda dalam Sumpah Pemuda adalah, ‘kami pemuda dan pemudi Indonesia mengakui berbahasa satu, bahasa Indonesia’. Pengakuan ini pula yang menjadikan bulan Oktober sebagai Bulan Bahasa Indonesia. Agar semangat memuliakan Bahasa Indonesia di negeri sendiri makin hebat, mari kita meriahkan Bulan Bahasa Indonesia ini dengan menulis dan menulis. Sekarang setiap orang bisa menulis karena ada Imob Educare yang siap menyebarluaskan tulisanmu.

Nah teman-teman, jadilah Pemuda Bangsa Indonesia yang gagah perkasa, berguna bagi negara, bagi masyarakat, bagi agama. Sebagai pemuda, alangkah indahnya jika kita menjadi bagian dari pemecahan masalah, bukan bagian dari masalah itu sendiri. Mari kita pekikkan sekeras-kerasnya Sumpah Pemuda…”Kami pemuda dan pemudi Indonesia mengaku bertanah air satu,tanah air Indonesia. Kami pemuda dan pemudi Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. Kami pemuda dan pemudi Indonesia mengaku berbahasa satu, bahasa Indonesia’. Merdeka, Hidup Indonesia! *gus

 

Makna Sumpah Pemuda Kian Memudar?

 

tawuran
Nasionalisme, yah nasionalisme, yang kini digugat oleh banyak pihak. Nasionalisme Indonesia yang kian jauh dari jiwa anak negeri tercinta ini, Indonesia.Mengapa?

Sebab setelah reformasi 1998 orang berpikir hidup tak perlu lagi ada negara bangsa. Setelah tak ada lagi Penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) orang bebas melakukan tindakan yang mengancam disintegrasi bangsa. Setelah tak ada pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa di sekolah orang lalu melupakan jasa para pahlawan. Setelah tak ada pelajaran Pancasila orang merasa tak penting lagi menggelorakan nasionalisme.

Padahal, jauh sebelum Indonesia merdeka 17 Agustus 1945, nasionalisme ‘Indonesia’ sudah berkobar-kobar. Kongres Pemuda 28 Oktober 1928 yang melahirkan sumpah pemuda adalah kobaran api nasionalisme Indonesia, pada hal waktu itu negara bernama Indonesia masih sedang dalam perjuangan, bahkan boleh dikatakan masih dalam angan-angan. Makanya Sumpah Pemuda merupakan peristiwa sejarah yang penuh makna dan ‘tabu’ untuk dilupakan anak-anak bangsa Indonesia.

Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, bukanlah sembarang sumpah, juga bukan sumpah serapah, tetapi sumpah yang sebelum Indonesia merdeka mampu mengikat Jong Java, Jong Sumatera, Jong Selebes dan Jong (pemuda) dari seluruh penjuru nusantara menjadi satu jiwa Indonesia. Setelah Indonesia merdeka Sumpah Pemuda mampu mengikat bangsa Indonesia yang beragam suku, agama, bahasa dan budaya dalam satu negara bangsa bernama Indonesia.

Lalu, kita yang sekarang ini, hidup di era setelah 84 tahun usia Sumpah pemuda atau di usia 67 tahun Indonesia merdeka, apa makna sumpah pemuda itu? Sumpah pemuda harus menjadi salah satu alat, sarana atau media untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme. Sebab, di tengah usia 67 tahun Indonesia merdeka, nasionalisme kalangan muda Indonesia justru memprihatinkan, semakin memudar. Masuknya budaya luar ke dalam paradigma pemuda-pemudi Indonesia selain memberi dampak positif tetapi juga menimbulkan dampak negatif yang membuat kaum muda Indonesia lupa terhadap jati dirinya sebagai warga Indonesia.

Kita bisa melihat dengan mata telanjang, begitu banyak orang muda di Bali yang cenderung berkiblat pada budaya barat. Kaum muda tak tertarik pada kegiatan-kegiatan bernuansa kebudayaan bangsa sendiri pada hal kegiatan bernuansa kebudayaan bangsa sendiri adalah jati diri bangsa yang harus dijaga, dipelihara dan diwariskan.

Belakangan ini kita semakin sering menyaksikan tayangan televisi yang mempertontonkan tawuran antar pelajar bahkan sampai menghilangkan nyawa sesama. Kita menyaksikan orang-orang muda yang menjadi ‘pengantin’ untuk sebuah aksi jahat yang mereka sebut sebagai ‘jihad’ lalu membom atau membunuh sesama saudaranya sebangsa dan setanah air. Bahkan perkembangan teknologi dan komunikasi telah dimanfaatkan untuk meniupkan api kebencian kepada negara bangsa bernama Indonesia ini.

Teman-teman pemuda dan pemudi, ayo bangkit dan kibarkan semangat nasionalisme Indonesia. Ayo, kita nyanyikan lagu Bangun pemudi pemuda Indonesia, lengan bajumu singsingkan untuk negara, masa yang akan datang kewajibanmulah, menjadi tanggunganmu terhadap Nusa, menjadi tanggunganmu terhadap Nusa. Yah, kita adalah penerus Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa, Indonesia.*gus