Kisah Seputar PPDB Tahun Pelajaran 2014/2015

Friday, July 4th, 2014
Seorang calon peserta didik sedang mendaftar di SMAN 6 Denpasar
Halaman sebuah SMA Negeri di Sanur, Denpasar Selatan, tampak lengang meskipun sekolah itu sedang menggelar Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Pelajaran 2014/2015. Hanya ada beberapa calon siswa berdiri di depan lobi sekolah ditemani orangtuanya masing-masing. ”Mereka itu calon siswa dari luar kota Denpasar yang harus daftar langsung di sekolah”, ujar salah seorang panitia PPDB sekolah itu tanpa menyebut identitasnya.

Pemandangan seperti itu hampir terjadi di semua sekolah SMA Negeri dan SMK Negeri di wilayah Kota Denpasar pada musim penerimaan peserta didik baru (PPDB) Tahun Pelajaran 2014/2015. Suasana sekolah tetap lengang meskipun ada puluhan calon siswa tampak berdiri di halaman atau di lobi sekolah. Hanya ada sejumlah siswa Kelas XI dan Kelas XII yang dipercayakan oleh sekolahnya untuk membantu proses pendaftaran siswa baru khusus yang berasal dari luar Kota Denpasar. Mengapa tidak terjadi antrean panjang saat pendaftaran 23-25 Juni 2014 lalu padahal waktu pendaftaran hanya tiga hari?

Ternyata penerimaan peserta didik baru tahun pelajaran 2014/2015 dilaksanakan dengan mekanisme yang lebih efektif dan efisien yakni secara online. Mekanismenya adalah pendaftaran online melalui situs www.denpasar.siap-ppdb.com tanggal 23-25 Juni 2014 selama 24 jam. SMA Negeri dan SMK Negeri di delapan kabupaten lain juga melakukan hal yang sama yakni pendaftaran melalui online dan setelah itu baru melakukan verifikasi di sekolah tujuan apakah dirinya sudah terdaftar atau belum.

Mekanisme yang berlaku pada musim PPDB tahun pelajaran 2014/2015 ini adalah sesuai dengan surat edaran Kadisdikpora Provinsi Bali Nomor:422.1/6089/Disdikpora perihal Petunjuk Pelaksanaan PPDB Tahun Pelajaran 2014/2015 yang ditandatangani Kadisdikpora, Tia Kusuma Wardhani,SH,MM. Penerimaan peserta didik baru untuk semua jenjang pendidikan dilaksanakan mulai Kamis 19 Juni sampai dengan Jumat 11 Juli 2014.

Khusus untuk jenjang SMA/MA, SMALB dan SMK/MAK penerimaan peserta didik baru melalui Nilai Ujian Nasional Murni, pendaftaran Senin 23 Juni sampai Rabu 25 Juni 2014, perangkingan nilai Kamis 26 Juni sampai Sabtu 28 Juni 2014, pengumuman Senin 30 Juni 2014 dan pendaftaran kembali Selasa 1 Juli sampai Kamis 4 Juli 2014. Pada saat pendaftaran ulang inilah sekolah-sekolah tujuan menjadi ramai dengan kehadiran peserta didik baru.
Para siswa tamatan SMP/MTs dan Kejar Paket B berlomba-lomba untuk meraih ribuan kursi yang disediakan di SMA Negeri dan SMK Negeri seluruh Bali. Namun tentu saja tidak semua yang mendaftar di sekolah negeri diterima atau sukses meraih kursi di sekolah negeri. Pasalnya, penerimaan peserta didik baru didasarkan pada nilai ujian nasional, prestasi akademik dan non akademik serta siswa miskin dengan ketentuan harus memenuhi persyaratan. Jadi kalau tidak memenuhi persyaratan pasti ditolak.

Penerimaan peserta didik baru tahun pelajaran 2014/2015 memang diatur sesuai dengan kuota masing-masing jenjang pendidikan. Khusus untuk SMA/MA jumlah peserta didik dalam satu rombongan belajar/kelas paling banyak 40 orang. Sedangkan untuk SMK jumlah peserta didik dalam satu rombongan belajar/kelas paling banyak 40 orang untuk bidang keahlian pekerjaan sosial dan bisnis manajemen sedangkan untuk bidang keahlian lainnya paling banyak 36 orang. Penerimaan peserta didik baru tersebut disesuaikan dengan daya tampung yang dimiliki oleh sekolah. Misalnya sebuah SMA baik negeri mempunyai daya tampung 12 kelas maka peserta didik baru yang diterima adalah 12 kelas x 40 orang = 420 orang. Kalau sekolah memiliki 20 kelas berarti bisa menampung siswa baru sebanyak 800 orang.

Sejumlah kepala sekolah SMA dan SMK Swasta banyak yang mempertanyakan Surat Edaran Disdikpora Provinsi Bali Nomor 422.1/6089/Disdikpora tanggal 13 Mei 2014 karena tidak menegaskan berapa jumlah rombongan belajar yang boleh diterima di sekolah negeri atau maksimal berapa orang peserta didik baru diterima. Menurut mereka kalau hanya mengatur jumlah maksimal tiap rombongan belajar 40 orang maka sekolah negeri bisa saja menciptakan ruangan baru atau menyelenggarakan proses belajar mengajar pada siang hari. Jika ini yang terjadi maka sekolah swasta akan mengalami kesulitan karena tidak memperoleh siswa baru. Yang jelas, sekolah swasta khususnya SMA terus menyusut dari tahun ke tahun dan beralih menjadi SMK karena sedikitnya minat siswa baru yang mendaftar.