Ida Ayu Selly Fajarini, SE

Disability: “... I’m Possible...!”
Tuesday, July 16th, 2013
Ida Ayu Selly Fajarini, SE
Tuhan menciptakan setiap individu merupakan satu paket jiwa raga yang lengkap dengan kelebihan dan kekurangan. Di setiap kekurangan terselip kelebihan, di berbagai kelebihan tersisip kekurangan. Memahami dan menerima semua apa adanya adalah kalimat sederhana yang memang ironis, karena kenyataan hidup berkata yang memukau hanyalah yang indah dan sudah menjadi hebat dipermukaan.


Sangat sedikit mata mau menoleh apalagi menghargai pada sebuah kehebatan yang masih tersembunyi. Ketika ada tangan tangan yang mau menjamah dan mampu memunculkan kelebihan di setiap kekurangan dan menjadikannya berguna, indah dan hebat itulah gema dari pemberdayaan. Tulisan ini adalah sebuah apresiasi IMOB Educare yang mengusung visi education & empo­werment. Kepada siapa saja yang menjamah ranah pemberdayaan yang dalam dan mampu menggugah, meng­inspirasi dan mengedukasi pembaca.

Ida Ayu Selly Fajarini, S.E., yang akrab disapa Bu Selly, Istri Walikota Denpasar Ida Bagus Rai Mantra, yang memprakarsai dan memberi ruang kepada penyandang disabilitas di Denpasar untuk berproses bertumbuh menjadi pribadi berguna dan mandiri. “Berbagai ajang kegiatan disabilitas yang merupakan muara dari aneka ragamnya latihan ketrampilan dan bakat yang dilakukan masyarakat membuka mata kita. Betapa disabilitas yang penuh dengan keterbatasan telah membuktikan, mereka bisa....!!” ungkapnya disela-sela wawancara ketika ditemui team IMob ­Educare di kediamannya di Denpasar.

Melalui Koordinator Kegiatan ­Kesejahteraan Sosial (K3S) kota Denpasar potensi tersembunyi para disabilitas akan terus diberi ruang dan digali. Mulai dari mageguntangan, utsawa dharma gita para tunanetra yang rutin dilakukan setiap tahun, stand cukur tunarungu yang ramai pengunjung, drama musikal, hingga stand kue disabilitas yang diikutsertakan dalam pameran-pameran yang omsetnya mampu melebihi stand lainnya. Jasa pijat Tunanetra dengan trend massage ala Thai ikut meraup limpahan dolar wisatawan di hotel-hotel di Bali. Demikian juga pelatihan jasa service HP yang dilakukan para cacat tubuh. Fashion show tunarungu juga tidak kalah memukau, banyak penonton pangling, karena penampilan para model tunarungu yang tidak ada bedanya dengan model normal. Dan yang paling menggugah adalah film WIDYA “Jemari Jiwaku Menari”.

Film yang berdurasi 90 menit ini mengangkat cerita perjalanan hidup Ni Luh Widiari, gadis penari tunarungu yang mampu membawakan tarian dengan sangat memukau. “Penampilan yang didukung oleh taksu yang dimiliki Widya menyangkal setiap mata yang melihat bahwa Widya adalah Tunarungu. Bayangkan, Widya tidak mendengar bunyi gamelan,” kata Bu Selly antusias. “Dia hanya bergerak dan bergerak saja dibantu kode dari peman­dunya, tetapi mampu merangkai antara gerakan dengan gamelan dan memunculkan taksu dari tarian oleg yang dibawakannya,” tambah Bu Selly.

Pada Forum APEC mendatang di Nusa dua, Widya dan Adi akan diundang menari. “Beberapa hari lalu saya bersama anak disabilitas diundang di acara Renald Khazali. Ini artinya suatu pengakuan akan wujud nyata sebuah pemberdayaan, bahwa kita bisa kalau kita mau. Saya harap para remaja sekarang, lebih-lebih yang tidak cacat merasa jengah dan tergugah untuk menggali bakat dirinya,” himbaunya. Widya dan Adi yang disabilitas saja mampu kok, yang tidak memiliki keterbatasan harusnya bisa melebihi. Ini sebuah tanggung jawab setiap individu yang dilahirkan sebagai manusia utuh.

“Sebagai seorang ibu kadang saya juga gemes ya..,” katanya lirih, “Masih ada sebagian remaja di Denpasar yang membuang waktunya begitu saja, bergerombol, kongko-kongko dengan geng motor. Walaupun tidak separah di kota besar lain, tapi tetap perlu upaya berbagai pihak untuk memacu paramuda agar mau menggunakan waktunya untuk berlatih dan menemukan bakat dirinya. Karena saya yakin setiap orang pasti punya keunikan, dan untuk menemukannya hanya dengan banyak latihan. Kalau gradag-grudug tidak jelas terus-menerus bukan tidak mungkin akan membentuk karakter generasi yang negatif. Semoga tidak pernah terjadi di Bali tawuran remaja dan rusuh gang motor seperti di kota lain,” ungkap Bu Selly.  Dikatakannya, film Widya akan ditonton bareng oleh para remaja dan sekolah-sekolah , Widya akan berada di tengah-tengah penonton. “Semoga ini merupakan upaya yang berdampak positif dan disambut baik oleh para Remaja kita,” tambahnya lagi.

“Suami saya selalu mengarahkan, ­jangan cuma buat kegiatan lalu hilang begitu saja, bagaimana aktivitas ini berkelanjutan hingga berdampak nyata membuat anak-anak ini mandiri dan punya nilai ekonomi,” ungkap­nya menirukan kalimat Pak Walikota. “Melalui K3S (Koordinator Kegiatan Kesejahteraan Sosial) Kota Denpasar, kami sering mengundang para donatur dan melibatkannya di berbagai kegiatan disabilitas agar semua kegiatan terus berlanjut. Dampaknya sih jelas ya, setelah proses latihan yang rutin tentu mereka membutuhkan kesempatan dan ruang untuk mempertunjukkan bakatnya,” ungkap Bu Selly. “Beberapa restoran di Denpasar menampilkan musik dibarengi penyanyi tunanetra dan mereka dibayar, jadi peran donatur dan pihak-pihak yang turut peduli sangat membantu dan menjadi semangat bagi para disabilitas. Tarian-tarian tunarungu juga sudah mulai pentas di ber­bagai tempat, memberi kesan empowering. Bagi orang-orang yang baru melihatnya pasti menggugah,” tambahnya.

Lalu apa yang melatarbelakangi bu Selly begitu betah dan fasih membaur dengan para disabilitas? “Sebelum suami saya menjabat kami adalah pengusaha, kegiatan-kegiatan sosial semacam ini sering kami lakukan tapi kan tidak terpublikasikan, dan ini juga merupakan kegiatan rutin keluarga. Orang tua Pak Wali selalu menanamkan kepada kita kepedulian  pada orang-orang yang kekurangan dan memiliki keterbatasan. Nah ketika kami menjabat, saya merasa hal ini bisa menyentuh ruang yang lebih luas dan berdampak lebih nyata untuk memberdayakan disabilitas. Jadilah program-program ini me­ngalir seperti air,” katanya.

Selain Disabilitas, di Denpasar ada juga generasi yang cukup memprihatinkan yaitu anak berkebutuhan khusus, ‘autis’. Dengan melihat pengalaman teman, Bu Selly akhirnya mengetahui bahwa anak autis bisa disem­buhkan asal dilakukan terapi sejak dini. Tetapi para orang tua yang kurang kemampuan ekonominya kerap tidak sanggup melakukannya sehingga mereka hanya pasrah. Hal ini yang menggugah hati Bu Selly untuk berupaya mencarikan jalan keluar, bagaimanapun setiap orang berhak menikmati hidup layak dan berbahagia. Lalu dibentuklah sekolah untuk anak berkebutuhan khusus yang berlokasi di Jalan A Yani Denpasar.

Bu Selly berharap masyarakat Denpasar yang memiliki keluarga autis dapat terbantu. Ada sekitar 200 siswa dari berbagai umur di sekolah autis, mulai dari anak-anak hingga usia 17 tahun. Saat ini sekolah berkebutuhan khusus ini bangunannya sedang di-upgrade berkat bantuan dana dari pusat. Kedepannya dibawah disdikpora, anak-anak autis selain di terapi akan dikembangkan bakatnya. Terus terang diakui bahwa saat ini therapist untuk anak-anak autis masih langka di Bali. “Saat ini kami datangkan therapist dari Solo, karena kami memulai lebih awal, jadi sekolah autis belum punya kurikulum. Mudah-mudahkan ke depannya akan terus dibenahi dan ditingkatkan, sehing­ga outputnya dari sekolah ini benar-benar mampu membantu siswa menjadi anak yang berbakat. Karena anak autis itu bukan anak cacat,” ungkapnya.

Mengenal lebih dekat, Bu Selly adalah putri pasangan Ida Bagus Rai Tariyasa dengan Ida Ayu Ratna. Bu Selly lahir di Denpasar pada 19 Januari 1967 silam dan menikah dengan Ida Bagus Rai Mantra tahun 1987. Ibu dari Ida Bagus Ngurah Sidayatra Wijaya Mantra, Ida Ayu Uttari Priyadarshini Mantra dan Ida Ayu Nathia Candrika Prakirani Mantra, hari-harinya diisi dengan kegiatan yang sangat padat. Sebagai istri Walikota, Bu Selly sekaligus menjadi Ke­tua PKK Kota Denpasar, Ketua Yayasan Kanker (YKI) Denpasar, Ketua KKKS, Ketua Dekranas Kota Denpasar dan Ketua Perkumpulan Pecinta Tanaman (PPT) Kota Denpasar.

Pada periode kedua masa kepemim­pinanya sebagai ketua TP PKK kota Denpasar, Ny. Ida Ayu Selly Fajarini, SE berhasil meraih sejumlah penghargaan. Pakarti Madya I pada Lomba Kesatuan Gerak PKK KB Kesehatan Kategori Kota Tingkat Nasional tahun 2011, menyusul Pakarti Utama tahun 2010 dan 2011. Ketua TP PKK yang aktif dan penuh semangat ini juga meraih penghargaan tiga kali berturut-turut sebagai pengelola Bina Keluarga Balita (BKB) terbaik tingkat provinsi dari menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dan Kepala Badan Koordinasi Keluarga Nasional. Dan banyak lagi penghargaan lainnya yang tidak dibahas satu persatu. Maju terus Bu Selly !!!
IMOB Youngster yang ingin berkomentar atau bertanya lebih lanjut untuk Bu Selly, dapat mengirimkan SMS ke 5667 dengan cara ketik IMOBEDU<>Profil<>Pertanyaan/komentarmu. Tarif 1000+ppn