I Kadek Udayana Dwi Permana

Mencintai Meditasi Taksu
Friday, July 4th, 2014
I Kadek Udayana Dwi Permana
Duduk bersila sempurna. Fokuskan diri. Baca sloka. Perlahan-lahan konsentrasikan jiwa dan fokuskan pikiran. Tenang dan tahan pikiran yang fokus dan konsentrasi selama beberapa saat. Dengan begitu akan mendapat manfaat luar biasa. Inilah yang dilakukan  remaja  bernama lengkap  I Kadek Udayana Dwi Permana.

Meditasi Taksu, itulah yang dilakukan oleh remaja berkulit hitam manis yang akrab disapa Dek Na ini. Sejak sekolah dasar Dek Na sudah belajar meditasi taksu. Terhitung sejak duduk di kelas 5 SD, Dek Na sudah diajarkan meditasi oleh Ida Pedanda Made Gunung di Pasraman. Dalam tempo kurang dari setahun, remaja kelahiran Gianyar, 16 Maret 1998 itu sudah menyelesaikan pelajaran meditasinya.

Meditasi Taksu dilakoni rutin setiap hari setelah bangun tidur. Dimulai dari yoga dan dilanjutkan dengan meditasi serta ada 7 sloka yang dibaca yaitu 4 sloka penyucian diri, 2 sloka penyempurnaan, dan 1 sloka sunya loka. “Waktu yang diperlukan kurang lebih 90 menit, 30 menit untuk yoga dan 60 menit untuk meditasi. Meditasi itu membuat tenang, sabar, dan konsentrasi. Dengan tenang dan sabar serta konsentrasi tentu akan membuat pikiran tenang dan belajar pun lebih rileks”, ungkap Dek Na kepada IMOB Educare.

Kegiatan meditasi taksu itu dilakukan Dek Na tanpa mengganggu kegiatan sekolahnya. Siswa SMAN 1 Ubud Kelas XI IPA 1 ini juga sangat berprestasi dan mampu membuat kedua orang tuanya, I Nyoman Gejir dan I Gusti Ayu Alit Arini bangga atas prestasinya. Prestasinya sudah terlihat sejak SD diantaranya sebanyak empat kali meraih juara 1 pada saat duduk di kelas 1, kelas 3, kelas 4 dan kelas 6; selebihnya ia meraih juara 2, yaitu di kelas 2 dan kelas 5. Kemudian saat duduk di bangku SMA, kembali Dek Na meraih Juara yaitu Juara Umum 2 di tahun ini. Saat ditanya tentang cita-cita, dengan tersenyum ia mengungkapkan rasa keinginannya untuk menjadi seorang dokter. Tentu bukan hal yang mudah, tapi dengan prestasi dan ketekunan belajarnya Dek Na yakin bisa meraih cita-citanya. Tekun belajar itu salah satunya termotivasi dengan lingkungan sekolah yang baik dan nyaman serta guru di sekolah yang sangat baik membimbing siswanya.

Mengomentari ujian nasional Dek Na menyatakan bahwa UN sebenarnya kurang efektif digunakan sebagai standar nasional pendidikan. Menurutnya, pendidikan bukan hanya semata-mata dilihat dari nilai saja tapi dari pelaku dan institusinya. “Belum tentu nilai UN bagus, pelaku pendidikan dan institusinya bagus juga”, ujarnya.

Tentang remaja masa kini, ia berpendapat bahwa para remaja masa kini ada dalam situasi yang penuh tawaran dan bisa berakibat degradasi moral. Karena itu penguatan moral dan karakter remaja mutlak perlu dilakukan. Dek Na juga menambahkan mengenai dampak sosial media pada pendidikan dan karakter remaja, menurutnya, sosial media memang bisa bermanfaat namun jika disalahgunakan justru akan berdampak negatif. Sosial media yang salah penggunaannya bukannya membuat remaja semakin kreatif tapi justru semakin menyesatkan remaja ke arah yang tidak benar. “Seharusnya dengan adanya sosial media, informasi akan cepat diperoleh sehingga kita menjadi tanggap dengan berbagai hal yang terjadi di lingkungan kita bukan malah sebaliknya”, tandasnya.