Hari Anak Nasional 23 Juli

Mari Melihat Dunia Anak Sekitar Kita
Friday, July 4th, 2014
Teman-teman kita yang berkebutuhan khusus
Tahukah teman-teman bahwa setiap tanggal 23 Juli diperingati sebagai Hari Anak Nasional? Hari Anak Nasional diperingati berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 44 Tahun 1984 tanggal 19 Juli 1984.Peringatan Hari Anak Nasional pertama kali dilaksanakan tanggal 23 Juli 1985 dan seterusnya diperingati secara rutin sampai sekarang.

Peringatan Hari Anak Nasional tahun 2014 ini menjadi penting sebagai momentum untuk mencermati masalah sosial yang mendera jutaan anak Indonesia.Apa lagi pemerintah Indonesia mencanangkan tahun 2014 ini sebagai tahun Indonesia bebas dari anak terlantar atau anak jalanan. Berbagai masalah sosial mendera anak-anak Indonesia antara lain cacat atau disabilitas, penyakit menahun, dipenjara karena kasus pidana dan narkoba dan ditelantarkan. Menurut sensus penduduk tahun 2010 sekitar 1,94 persen anak Indonesia usia 0 sampai 14 tahun menyandang disabilitas atau berkebutuhan khusus, kata lainnya cacat. Menteri Sosial Salim Segaf Al-Jufri pun mengakui berdasarkan survey yang dilakukan tahun 2013 jumlah anak cacat di Indonesia sekitar 1,7 juta orang.

Jumlah anak terlantar di Indonesia sampai April 2014 tercatat sebanyak 5,4 juta anak dan menurut pengakuan Menteri Sosial RI hanya 200.000 anak terlantar yang ditangani oleh Kementerian Sosial. Angka 5,4 juta tentu saja tidak kecil dan harus dipandang sebagai masalah sosial serius yang harus mendapat perhatian dari semua pihak. Apa lagi UUD 1945 secara jelas mengamanatkan bahwa anak terlantar dan fakir miskin dipelihara oleh Negara.

Di sisi lain banyak anak Indonesia yang kini mendekam di penjara sebagai akibat terjerumus dalam situasi sosial ekonomi yang mengharuskan mereka menjadi maling, pembunuh, pengedar narkoba dan sebagainya. Data tahun 2013 lalu menyebutkan jumlah anak yang berstatus tahanan atau narapidana di seluruh Indonesia 5.730 orang. Dari jumlah tersebut 2.233 anak berstatus tahanan dengan rincian 2.168 anak laki-laki dan sisanya tahanan anak perempuan. Sedangkan jumlah narapidana anak 3.497 anak dengan rincian 3.428 anak laki-laki dan sisanya anak perempuan.

Di Bali, pulau Dewata yang menjadi obyek wisata nomor satu di dunia juga tak luput dengan masalah sosial yang mendera anak dan remaja. Bali tak luput dari keberadaan anak dan remaja cacat, anak jalanan dan terlantar, anak-anak yang mendekam di penjara, anak-anak yang menyandang penyakit menahun dan anak-anak korban kekerasan fisik maupun kekerasan seksual. Di tengah kondisi sosial tersebut muncul sekelompok orang yang memberi dirinya pada pengabdian untuk kemanusiaan yang berusaha membebaskan anak-anak dari ancaman suramnya masa depan mereka.

Di Bali sejumlah masyarakat mendirikan Panti Asuhan, Tempat Penampungan Anak Terlantar, Tempat Rehabilitasi Anak Cacat dan lain-lain. Salah satunya yang dilakukan oleh Dewa Putu Wirata yang mendirikan Yayasan Sayangi Bali. Yayasan ini merawat anak terlantar dan menyalurkan bantuan masyarakat bagi anak cacat, anak penyandang penyakit dan anak kurang mampu. Yayasan Sayangi Bali merawat anak-anak yang ditelantarkan oleh orang tuanya agar tumbuh kembang secara wajar.

Selain itu Yayasan Sayangi Bali juga menunjukkan kepedulian pada anak-anak yang harus menjalani pengobatan secara rutin akibat penyakit yang dideritanya sementara mereka berasal dari keluarga tak mampu. Beberapa anak yang perlu mendapat perhatian seperti Dehan Taka Djandji (3 tahun) asal Waingapu Sumba yang didera tumor mata, Ni Kadek Sinta Dharmayanti(1,5 tahun) asal desa Alas Angker yang lahir tanpa anus, Kadek Dwipayana (10 tahun) asal pejeng Gianyar yang penyandang penyakit kanker tulang, Kadek Rehandiantara (3 tahun) asal Tirta Sari Singaraja yang menderita kanker darah dan Gusti Ayu Anggita (1 tahun) yang menderita sakit jantung. Dan masih banyak lagi anak-anak yang membutuhkan solidaritas dari sesamanya.

Pengabdian lainnya dilakukan oleh Wayan Nika dengan mendirikan Panti Asuhan Hindu Dharma Jati di Jalan Trengguli Nomor 80 Penatih Denpasar. Pria usia 56 tahun ini dijuluki sebagai bapak ratusan anak terlantar karena di Panti Asuhan Hindu Dharma Jati memang menampung ratusan anak-anak terlantar. Sejak didirikan tahun 1985 di Klungkung Panti Asuhan ini telah mendidik sekitar 1.400 anak terlantar yang kini sudah hidup mandiri. Saat ini Wayan Nika yang juga berprofesi guru mengasuh 221 anak terlantar di Panti Asuhan Hindu Dharma Jati di Denpasar dan 128 anak terlantar di Panti Asuhan Hindu Dharma Jati Klungkung.

Nah teman-teman, apa yang ditulis ini hanya sebagian kecil dari masalah sosial yang mendera anak-anak sesama bangsa kita. Masih ada ribuan bahkan jutaan anak Indonesia terlantar hidup tanpa harapan akan masa depan yang baik. Ribuan anak cacat dan menyandang penyakit kronis hidup di gubuk reot, di desa terpencil dan di dalam keluarga miskin. Mereka perlu uluran tangan semua orang termasuk teman-teman siswa SMA/SMK. Ayo, sisihkan sedikit uang jajanmu, buatlah aksi untuk meringankan beban hidup sesame anak bangsa tercinta ini.